Alasan Kenapa Jurnalis Profesional Tetap Diperlukan di Tengah Maraknya Social Media

APAKAH wartawan masih diperlukan saat ini?

Ya, pertanyaan ini mengemukan setelah era sekarang ini memang dikenal sebagai eranya social media. Menjadi pertanyaan penting, ketika arus media utama mulai tergantikan perannya oleh social media semisal facebook maupun micro-blogging twitter, lantas bagaimana dengan peran para jurnalis. Apakah mereka masih diperlukan kehadirannya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, menarik laporan detikcom berikut ini. Silahkan disimak.

Naik daunnya media sosial (social media) di dunia global menjadi bahasan utama di World Media Summit 2012. Salah satu intisari dari pertemuan internasional ini, media sosial bukan menjadi ancaman para jurnalis profesional. Dunia masih butuh jurnalis profesional yang bisa memberitakan dengan benar dan independen.

World Media Summit secara resmi ditutup Jumat (6/7/2012) petang kemarin. Namun hingga hari ini, Sabtu (7/7/2012) sekitar 300 peserta dari 102 negara masih memiliki acara kunjungan ke festival kebudayaan dan ramah tamah. Acara World Media Summit 2012 yang digelar di World Trade Center (WTC) Moskow diselenggarakan oleh ITAR-TASS News Agency.

Dalam sesi pleno terakhir, banyak peserta yang menyampaikan pendapat-pendapatnya mengenai masa depan media tradisional dan media baru. Pemimpin Redaksi Associated Press John Daniszewski misalnya menyampaikan bahwa saat ini konsumsi berita saat ini sudah sangat besar, karena banyak masyarakat yang mengkonsumsi lewat media online dengan iPhone maupun gadget lainnya.

Lewat media sosial, masyarakat biasa (bukan jurnalis) bisa membuat berita dan dibaca oleh masyarakat lainnya. Namun, masyarakat tetap ingin mendapatkan berita-berita dari jurnalis profesional.

"Masyarakat masih memerlukan informasi yang dibuat oleh para profesional. Evolusi teknologi tidak begitu penting karena tampaknya bagi sebagian orang, tak ada yang akan dapat menggantikan seorang reporter yang bisa memberitakan secara adil dan tidak memihak dan memberikan informasi yang akurat," kata Daniszewski.

Pemimpin Redaksi Harian Komsomolets Pavel Gusev berbagi pendapat seharusnya tidak usah dipertentangkan antara informasi yang berkembang di media sosial dengan informasi yang dipublikasikan media massa. Media massa akan tetap dibutuhkan masyarakat untuk penyebaran informasi yang kredibel. "Sedangkan informasi di media sosial tidak bisa dikonfirmasi kebenarannya," ujar dia.

Sementara itu, banyak pimpinan media yang berpendapat bahwa pengusaha atau pengelola media tidak perlu takut dengan berkembangnya teknologi baru. Di mata Direktur BBC Peter Horrocks misalnya, saat ini ada kecenderungan pengelola media takut dengan munculnya perkembangan teknologi informasi dan berkembangnya media sosial.

Bagi Horrock, tumbuhnya perkembangan internet harusnya memberikan kesempatan media massa untuk berkembang. Saat ini, masyarakat tidak hanya bisa mendengarkan apa yang disiarkan oleh televisi atau radio. Tapi masyarakat bisa memberikan informasi lebih cepat melalui media sosial. Jadi, biarkanlah kebebasan dalam memberikan informasi tetap dijaga dengan baik.

Yang pasti, pengelola media harus bisa lebih memberikan konten yang lebih baik dan kompetitif. "Jika media tetap berpegang pada pandangan-pandangan lama dan bersikeras pada kenyataan bahwa aliran informasi harus dikontrol, media akan kehilangan dalam kompetisi ini," kata dia.

Di tengah berkembangnya media sosial, kata Kepala Cabang Asia-Eropa Xinhua, Chang Tegan, media massa tetap harus mengembangkan, menjaga dan membangun hubungan dari berbagai ras di dunia dan mempromosikan konsep-konsep pembangunan dan memperhatikan isu-isu soal. Dia berharap media-media tradisional bisa menyadari transformasi teknologi baru dan bisa menciptakan sistem yang moderen untuk penyebaran informasi secepat mungkin.

Sayang sekali, dalam pertemuan yang berlangsung sejak 5 Juli 2012 itu, panitia tidak mengundang pimpinan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang IT, semisal Google, Yahoo, Twitter, dan Facebook. Mereka seharusnya bisa diminta untuk berbicara mengenai media sosial dalam waktu mendatang, sehingga pengelola media massa di dunia bisa mengetahui ke mana arah perkembangan teknologi informasi dan media sosial sepuluh tahun terakhir dan bisa mengantisipasi mulai saat ini. (*)

Sumber: Detikcom

Josef Bataona, tokoh HR yang mulai ngeblog

Bagaimana jadinya kalau seorang top manajemen mulai menuangkan ide-idenya atau sekadar berbagi di blog? Tentunya menarik. Inilah sekarang yang mulai ditekuni oleh seorang Josef Bataona. Penasaran, berikut penampakannya.

(Ket foto dari kiri-kanan: @mei168 @Josefbataona @nukman @mallalatif dan @erkoes)

Inilah suasana peluncuran blog www.josefbataona.com di markas
@portalhr.

Josef Bataona, saat ini menjadi salah satu direksi di Bank Danamon, setelah sebelumnya berkarier cukup lama di Unilever Indonesia. Selain mulai nge-blog, Josef juga aktif di social media seperti LinkedIn, Facebook, dan juga Twitter.

Selamat datang ya Pak Josef di dunia online.
Mari saling berbagi.

About me

Perkenalkan saya Rudi Kuswanto. Menekuni dunia jurnalistik, ghost writer, nge-blog dan tulis menulis lainnya sebagai passion. Saat ini masih aktif di portalHR.com ... read more>>

Untuk melihat aktivitas saya lainnya, bisa dilihat di akun social media yang saya ikuti, seperti: Facebook, Twitter, LinkedIn, maupun Google+.

Saya bisa dihubungi: via email: erkoes[at]yahoo[dot]com

Pin BB: available by request
silahkan follow di twitter: @erkoes