Ada Apa dengan Budaya Antre Kita?
8.20.2011
Posting berikut ini saya ambil dari salah satu artikel yang dibuat oleh Pak Susbandono. Menarik karena topik ini mengena, di saat kita sedang menyongsong tradisi tahunan, yakni lebaran dengan mudik pulang kampung. Silahkan langsung di simak ya.
“Kalau anda sedang terlibat dalam antrean yang panjang,
jangan melihat deretan orang di depan, melainkan yang di belakang anda”.
jangan melihat deretan orang di depan, melainkan yang di belakang anda”.
GARA-GARA menjadi pemenang undian suatu produk baterai, tetangga saya akhirnya melancong ke Singapura. Mas Tarno, demikian kami biasa memanggilnya, yang belum pernah menginjakkan kaki di negeri Singa itu, , tidak mau melewatkan kesempatan emas ini berlalu begitu saja. Bersama isterinya, mbak Utami, mereka sempat plesir ke Singapura, menginap 3 malam disana, jalan-jalan ke Universal Studio, makan-makan di Orchard Road dan semuanya gratis.
Ketika suatu sore ketemu di pos Hansip dan saya tagih oleh-oleh, dia malahan memulai ceritanya dengan misuh-misuh (maki-maki). “Kangkrengane, nang Singapura angel nggolek taxi. Ndadak antre, suwe, ora entuk-entuk. Kabeh-kabeh kudu antre”. (Kurang ajar, di Singapura susah cari taxi. Harus antre, lama, tidak dapat-dapat. Semuanya harus antre). Dia bercerita pernah berdiri di depan mall, dan menaik-turunkan tangan, sambil teriak-teriak “Taxi, taxi, sir”.
Tetapi tidak ada satupun mobil yang berhenti di depannya. Sementara dari jauh dilihatnya barisan manusia bak ular-naga. Anehnya, ada saja taxi yang berhenti di depan antrean, menyilakan masuk orang yang berdiri paling depan, dan tancap gas. Begitu seterusnya, dan mas Tarno bingung mengapa tidak mendapatkan taxi, kendati lambaian tangannya malahan sudah diikuti teriakan, “Stop taxi…..!”.
Singapura dan banyak negara maju lainnya, memang sudah menandai kehidupan mereka dengan antrean. Membeli tiket KA, belanja di Super Market, membeli makanan di restauran, berkendara di jalan raya, menunggu dokter di RS, dan masih banyak momen lainnya, selalu ditandai dengan antrean.
Tata-cara berantre mungkin tidak pernah diajarkan di ruang kelas, tetapi sistem antrean gampang dimengerti secara universal oleh manusia normal. Akal sehat mendikte kita bahwa tak bisa dipungkiri lagi, antre adalah satu-satunya cara memecahkan masalah, bila sumber pelayanan lebih sedikit dibanding pemakai kebutuhan. Antre adalah cara mempercepat, bukan menghambat pelayanan, seperti yang dikeluhkan mas Tarno.
Saya pernah mendapat pelajaran bagus mengenai bersikap dengan benar, ketika antre. Sekian tahun lalu, saya berada di di stasiun KA, Gare du Nord, di kota Paris. Tujuan saya membeli tiket tercepat dan termurah ke Amsterdam, Belanda. Hanya saja, antrean sangat panjang, berliku-liku meskipun tetap rapi.
Saya, kira-kira, berada di tengah antrean, yang saya taksir panjangnya sekitar 10 meter. Persis di belakang saya, ikut antre 2 orang suami-isteri bule, yang sudah sepuh, kemudian saya tahu mereka berasal dari Belanda, dan sama-sama akan pergi ke Amsterdam. Usianya kira-kira 70 tahun, namun tetap kelihatan fit, dengan rona muka yang ramah. Mereka dengan sabar ikut antre, sementara saya sudah merasa kesal karena seolah-olah antrean tidak juga beringsut ke depan.
Ketika itu, antre memang belum mendarah-daging dalam diri saya, sehingga ikut antre adalah suatu bagian keterpaksaan dari hidup. Kelihatannya pasangan sepuh tadi mengetahui kesebalan saya dalam berantre, dan menasehatkan cara bagaimana sikap antre yang benar. “Kalau anda sedang terlibat dalam antrean yang panjang, jangan melihat deretan orang di depan, melainkan yang di belakang anda”.
Ketika saya mengikuti nasehat mereka, tiba-tiba kegundahan saya berubah menjadi rasa nyaman. Saya merasa bagian dari manusia beruntung, karena ada sekelompok orang, sedang berada di barisan sepanjang 5 meter, yang berada di belakang saya, untuk mendapatkan tiket KA dengan tujuan yang sama. Saya berada di depan 2 orang yang baru saja memberikan kata-kata mutiara, penyejuk jiwa, yang langsung menentramkan dan menguatkan agar lebih sabar ikut antre.
Saya lega dan optimis bakal menyentuh loket KA yang semula merupakan oase di depan sana. Semua perasaan negatif berubah 180 derajat, menjadi keikhlasan untuk mengikuti cara yang benar untuk mendapatkan tiket KA, Paris-Amsterdam.
Banyak contoh yang membuktikan bahwa budaya antre belum membudaya di masyarakat Indonesia. Tengoklah stasiun Gambir, lebih-lebih menjelang Lebaran. Antrean membeli tiket KA untuk mudik memang mula-mula ada, tetapi tak sedikit manusia yang merasa perlu diprioritaskan, langsung menyerobot ke depan barisan atau lewat pintu belakang loket, dan antrean kemudian bubar tak karuan.
Jadilah hiruk-pikuk yang anarkis di hampir semua stasiun KA kota besar di Indonesia. Orang masuk gerbong KA melalui pintu, jendela, bahkan menerobos lewat lubang angin, membuat sistem-antrean buyar tak karuan. Akhir-akhir ini, kemacetan lalu-lintas di kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta, menjadi topik yang hangat di media masa. Kemacetan sudah menghantui kehidupan perkotaan, mengancam sisi-sisi sosial, hukum, ekonomi bahkan kedamaian dari masyarakat.
Diramalkan tahun 2015, lalu-lintas Jakarta, pada waktu sibuk, akan macet-total tak bergerak. Jalan tol atau non-tol sama saja, keduanya dipenuhi kendaraan yang tak beraturan. Sebab utama dari kemacetan itu, menurut saya, karena perilaku masyarakat, pejalan kaki, pengemudi sepeda motor, supir bajay, supir kendaraan pribadi dan angkutan umum, yang tak sabar untuk antre. Pernahkah anda menyaksikan kemacetan di Puncak, terutama pada waktu akhir pekan? Mobil berderet berkilo-kilo meter, berliku-liku berjajar 2 atau 3 jalur.
Dalam model antrean seperti ini, disiplin diri perlu ditegakkan, dan rasa ego perlu dikubur dalam-dalam. Tapi apa yang terlihat? Banyak supir tidak sabar, langsung menyalib dari kanan atau bahkan kiri, tentunya bukan memperlancar tetapi malahan bikin tambah runyam. Saya tak habis pikir, itu juga dilakukan mobil mewah yang tentunya milik orang berduit, yang biasanya berpendidikan.
Apa sebab masyarakat Indonesia tidak suka antre? Mengapa antre tidak menjadi perilaku yang otomatis keluar ketika beberapa orang memerlukan suatu pelayanan yang sama, dalam waktu yang sama? Para ahli Ilmu Sosial pernah meneliti hal ini dan yang mengherankan adalah bahwa keengganan untuk antre timbul karena merasa dirinya harus didahulukan.
Orang lain silakan di nomer dua, tiga atau tidak sama sekali, asalkan saya yang pertama. Rasa ego yang berlebihan dan ingin enak sendiri. Bahasa kerennya adalah asosial. Mengherankan, karena ternyata orang Indonesia banyak yang anti-sosial, kesadaran hidup bermasyarakat yang rendah. Yang kedua adalah karena orang Indonesia dikenal luwes dan sulit bersikap zakelijk. Padahal, syarat mutlak antrean dapat berlangsung aman adalah rasa lugas itu.
Yang awal dilayani duluan, yang kemudian menyusul. Biar atasan harus antre belakangan bila sang bawahan datang lebih awal. Antrean yang lancar memang tak kenal tua-muda, pria-wanita atau kaya-miskin. Ia tak menggubris Jenderal atau Kopral, Manager atau Operator, Direktur atau Kondektur. Anti diskriminasi dan no rank treatment. Sekali saja ada seseorang yang diistimewakan saat antre, siapapun dia, maka sistem-antrean akan berantakan tak karuan.
Jalan keluarnya adalah melalui dunia pendidikan. Masyarakat harus dipameri bahwa dengan tertib antre, segala urusan lebih cepat beres. Kebiasaan berdisplin antre harus dicanangkan dan sarana untuk antre harus disediakan di setiap lokasi umum. Di sekolah sekolah - sejak Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi - perlu diajarkan bahwa antre adalah suatu kebiasaan yang harus keluar secara spontan.
Cara berebut dan main sodok harus dianggap tabu. Yang harus disadarkan adalah, rasa paling kuasa, paling penting, paling kuat, atau paling layak diprioritaskan mesti dikikis habis. Kalau saja benar, saya sungguh iri, ketika seorang penulis besar dari Inggris, George Mikes (1912-1987), mengatakan An Englishman, even if he is alone, forms an orderly queue of one. Orang Inggris, dikenal sangat gemar antre, bahkan ketika mereka sendirianpun, secara tertib akan antre.
0 komentar:
Post a Comment