Online Crisis Management

7.29.2009

Hari ini ada pelajaran menarik di acara seminar sehari "Menghadapi Krisis di Internet" with Nukman Luthfie. Dunia internet dengan kecepatannya yang saat ini sudah masuk gigi 9, maksudnya untuk menggambarkan betapa kecepatan di internet ini sungguh luar biasa, haruslah disikapi dengan benar.

Inilah yang dialami oleh RS Omni dengan kasus Prita dan yang baru hangat terjadi adalah kasusnya Teh Botol Sosro yang juga kena imbas dari dunia internet. Dengan kasus yang mirip2, Teh Botol Sosro telah berhasil melewati online-crisis dengan manis, dan pendekatannya telah menjadi knowledge yang menarik.

Kalo ada waktu saya akan kupas atau tularkan bagaimana Teh Botol Sosro bisa melewati krisis di internet, tapi mungkin udah ada temen2 lain yang menulis duluan, silahkan di-gogling.

Mudah-mudahan ada insight ya..

Read more...

Pelajaran dari Ayat Seribu Dinar

7.21.2009

Saya deket dengan Abah Rama terbilang belum lama. Namun keakaraban yang ditunjukkan oleh pria bernama lengkap Rama Royani ini membuat saya seolah cukup lama dekat beliau. Kini melalui Klub Guru DKI, saya berkesempatan mengenal lebih dekat dan berkesempatan mendownload ilmunya yang luar biasa.

Persoalan talent yang banyak orang menganggap rumit, di tangannya dan dengan temuan software yang ia rancang sendiri, kini marak disosialisasikan ke berbagai isntitusi, talents begitu gampang diurai. Rasanya selalu banyak hal baru kalau ketemu Abah.

Artikelnya sendiri juga cukup menginspirasi yang dituangkan dalam buku harian onlinenya. Misalnya saja, tentang Ayat Seribu Dinar. Coba simak ya, tulisan Abah di bawah ini.

Malam Minggu dibulan yang lalu, pada saat bangun malam, tiba-tiba Abah merasa bahwa mungkin ada yang salah dan mengucapkan do’a selama ini, khususnya karena ada ayat [ yang pernah saya dengar walaupun belum tahu tepatnya dalam surat yang mana] yang menyatakan bahwa “apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah dan sebaliknya..” sehingga bisa saja ada permohonan yang kita ucapkan dalam berdo’a yang sebenarnya bukan yang seharusnya diminta.

Langsung Abah mencari buku do’a dan terfokus pada salah satu do’a yang konon sangat terkenal dan banyak dianjurkan untuk “diamalkan” bahkan tidak jarang digantung di tembok, dipintu agar rezeki lancar.

Ketika membaca doa yang dinamakan Do’a Wamayattaqilah [atau sering dinamakan Ayat seribu dinar], Abah agak bingung karena isinya samasekali bukan do’a,melainkan cuplikan ayat dari salah satu surat di Al Qur’an.

Bunyinya begini :
“Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya diberi-Nya kelapangan dan diberi-Nya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya akan dicukupkan segala keperluan…”.

“Mengamalkan” Ayat [atau Do’a] diatas bukanlah sekedar menggantungnya ditembok,akan tetapi juga sering-sering membaca kemudian menghayati maknanya dan juga mengerjakannya, dan kalau melihat ayat tersebut maka ada dua hal yang sangat penting apabila kita ingin mendapat kelapangan,rizki dan dicukupkan segala keperluan yaitu TAQWA dan TAWAKKAL

Kelihatannya sederhana, hanya dengan TAQWA dan TAWAKKAL kita akan mendapat kelapangan, rizki dan dicukupkan segala keperluan, benarkan demikian ?? tahukan andaapa yag dimaksud dengan TAQWA dan TAWAKKAL ??

TAQWA:
Berarti Menjalankan perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya
• Menjalankan perintah-Nya
• Menjauhi larangan-Nya

TAWAKKAL:
Bukan sekedar pasrah melainkan harus diawali dengan Usaha yang keras dan sungguh-sungguh,kemudian ikhlas dengan apapun hasilnya, karena hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi kita.

Ini berarti ada empat unsur yang sangat penting sbb:
• Menjalankan perintah-Nya:
• Berarti setiap manusia mempunyai tugas [alasan keberdaan]
• Kalau kita tahu akan tugas tersebut dijalankan dengan sungguh-sungguh maka Alah akan menjamin dengan peluang dan rizki
• Menjauhi larangan-Nya
• Kalau kita dapat menghindari diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang
Allah seperti sirik, jahat,dengki,dlsb, maka Allah akan mencukupkan segala keperluan
• Kerja keras dan sungguh-sungguh
• Berupaya keras didalam menjalankan tugas yang Allah berikan merupakan keharusan yang tidak isa ditawar lagi
• Ikhlas dengan apa yang diterima
• Pada akhirnya, apabila kita sudah berusaha dengan sepenuh hati dan tenaga dalam menjalankan tugas yang diberikan dalam batasan tatanilai yang ditentukan Allahdan hasilnya tidak sesuai dengan keinginan,maka sikapterbaik adalahmemerimanya dengan ikhlas karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita

APA TUGAS KITA SEBENARNYA ?
Tugas adalah alasan keberadaan.
Anda berada dirumah karena ada tugas
Anda berada di sekolah karena ada tugas
Anda berada di kantor karena ada tugas
Anda berada ditempat anda sekarang ini karena ada tugas
Anda berada dibumi ini karena ada tugas.
Kalau kita simak semua tugas tugas-tersebut diatas maka semuanya terkait dengan konntribusi kita pada fihak lain yang sering disebut sebagai “bermanfaat bagi orang lain dan atau lingkungan”

Untuk dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, Allah memberikan potensi berupa karakteristik produktif yang membuat seseorang memiliki “passion” yang unik.
Ini berarti bahwa Tugas kita masing masing sangat erat kaitannya dengan Bakat dan Potensi Kekuatan kita masing-masing

Ada yang tugasnya mengajar, dengan begitu dia harus memberikan pelajaran yang bermanfaat bagi murid-muridnya
Ada yang tugasnya meneliti,dengan begitu dia harus meneliti segalasesuatu yang bermanfaat bagi manusia dan lingkungan
Ada yang tugasnya memimpin, dengan begitu dia harus memimpin sehingga dapat memberikan manfaat sebesar besarnya bagi yang dipimpin
Ada yang tugasnya menjual, dengan begitu dia harus berjualan barang-barang yang dapat member manfaat bagi pembeli
Ada yang tugasnya menyembuhkan manusia, maka lakukan dengan cara-cara yang bermanfaat bagi orang lain.
Ada yang tugasnya membuat lagu, maka buatlah lagu yang memberikan inspirasi dan semangat agar bermanfaat

Jadi apapun tugasnya,lakukan dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga, untuk dapat memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan,maka Allah akan memberikan kelapangan, rezeki dan dicukupkan segalanya.

Tentang tugas-tugas manusia ini kungjungi saja websitenya abah di sini.

Read more...

KGI-Bedah Buku Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional

7.12.2009

Apa sih yang dimaksud dengan profesionalisme guru?


Kapan seorang guru disebut profesional?


Mengapa guru harus profesional?


Bagaimana menjadi guru profesional?



Temukan jawabannya pada acara seminar dan diskusi dalam rangka launching buku "Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional" , kerja sama Klub Guru Indonesia dengan Grasindo - Kompas Gramedia Group. Resensi buku bisa dibaca di sini.



Pelaksanaan:

Hari, tanggal: Sabtu, 25 Juli 2009


Waktu: Pukul 08.30 - 12.00 WIB


Tempat: Gedung Kompas Gramedia Lt. 7, Jl. Palmerah Barat No. 33-37 Jakarta Pusat



Pembicara:


1. Dr. Sylviana Murni, SH., M.Si, mantan Kadis Dikdas Dinas Pendidikan DKI Jakarta, sekarang walikota Jakarta Pusat


2. Dr. Indra Djati Sidi, penulis buku, mantan Dirjen Dikdasmen Depdiknas, sekarang Ketua Dewan Pembina Klub Guru Indonesia


3. Satria Dharma, penulis buku, pernah mengajar baik sebagai guru PNS maupun di sekolah internasional, sekarang menjadi Ketua Umum Klub Guru Indonesia



Moderator:


Novita Ismuliati Kusumadewi, S.Pd, Guru sekolah Alfath


Biaya Kepesertaan:


- Anggota Klub Guru: Rp 50.000,- (transfer Bank DKI)


- Non Anggota: Rp. 75.000,- (transfer ke Bank BCA)


Fasilitas:


- buku "Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional"


- snack & drink


- sertifikat



Transfer Pendaftaran:


- Bank DKI, no rek 41923065369, an. Dede Kurniasih


- BCA, no rek 0123000282, an. Gramedia Widiasarana Indonesia

Informasi dan Pendaftaran:


1. Kantor Klub Guru Indonesia, Jl. Jatipadang Raya no. 23 Pasar Minggu, Jakarta Selatan, telpon (021) 78836778, fax (021) 78847363


2. Ibu Dede Kurniasih (021) 70548122, 081318723885


3. Penerbit Grasindo: Fitri / Esther (021) 53650110-111, Ext. 3336, 3337, 3300



JANGAN LEWATKANBURSA BUKU DISKON 30-70 %

(KHUSUS UNTUK PESERTA SEMINAR)



Catatan:

Buku "Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional" sudah dapat didapatkan di jaringan toko buku Gramedia seharga Rp 47.000,-

Read more...

Berbagi dan Bertumbuh di Klub Guru Indonesia

7.10.2009

Hari ini saya join dengan milis Klub Guru Indonesia. Mudah-mudahan saya bisa memberikan kontribusi kepada organisasi profesi yang mayoritas anggotanya tentu saja para guru-guru kita tercinta. Saya sendiri memang tidak berprofesi sebagai guru, namun semangat dari para pendiri KGI (Satria Darma dan Ahmad Rizali) yang ingin mengajak kepada semua lapisan untuk membantu para guru meningkatkan profesionalismenya, mendorong saya untuk ikutan memberikan sumbangsih.

Berikut ini tulisan saya tentang Klub Guru Indonesia yang dimuat di Majalah Human Capital Edisi Juli 2009. Silahkan disimak.

Berbagi dan Bertumbuh di Klub Guru Indonesia

Gaung Klub Guru Indonesia mulai terdengar ke mana-mana. Kabar gembiranya, gur-guru sekarang mulai bergerak membawa angin segar bagi dunia pendidikan nasional. Dengan kesadaran sendiri mereka mulai menghargai diri sendiri dan bersama-sama untuk saling berbagi dan bertumbuh meningkatkan kualitas serta profesionalisme.

Lagu Kebangsaan Indonesia Raya terdengar syahdu di Auditorium Pangeran Kuningan, Gedung Grha Citra Caraka Telkom, Jakarta, akhir bulan lalu. Lebih dari 300-an guru berdiri dan menyanyikan dengan sepenuh jiwa. Mereka menjadi saksi dari perjalanan Klub Guru Indonesia (KGI) yang pada hari itu mengukuhkan kepengurusan untuk wilayah DKI Jaya periode 2009-2012.

KGI sendiri awalnya adalah buah pikiran dari dua orang pemerhati pendidikan yang gelisah ingin melihat perubahan dan berniat memberikan kontribusi bagi bangsa ini. Adalah Satria Dharma dan Ahmad Rizali yang berkenalan lewat milis Center for Betterment of Education (CFBE), sekitar sembilan tahun silam dan mulai menjalin persahabatan. Mereka saling bertukar pendapat tentang dunia pendidikan berikut persoalan-persoalan yang dihadapi.

“Dari sering berinteraksi di milis kami akhirnya sering bertemu langsung dan membahas banyak hal. Ternyata pendidikan itu sangat luas dan permasalahannya juga sangat kompleks. Untuk itulah kami membutuhkan orang-orang yang punya komitmen,” tutur Satria Darma, Ketua Umum KGI saat ditemui Majalah Human Capital. “Sayangnya kita melihat banyak lembaga-lembaga atau sumber daya di masyarakat justru menjadi oposisi, mereka mengkritik dan lain sebagainya. Nah, kami tidak ingin menjadi seperti itu, tapi kami ingin menjadi bagian yang bisa menyelesaikan masalah.”

Dari hasil obrolan pertemuan-pertemuan offline, Satria dan Nanang, panggilan Ahmad Rizali bersepakat untuk membantu para guru. “Karena apapun masalah yang ada di pendidikan, intinya tetap ada di guru, dan kita melihat harus mulai dari diri sendiri karena organisasi semacam yang ada terlalu besar untuk mengurusi hal-hal yang spesifik,” imbuh Satria. Sementara Nanang menambahkan, ide awal pembentukan KGI benar-benar atas dasar kebutuhan para guru meningkatkan kompetensi dan profesionalisme.

Langkah awal mereka mulai membuat seminar pertama di Jakarta pada 2007 di Sampoerna Fondation. Sayang action awal di Jakarta kurang direspon dan ditindaklanjuti. Ide dasar ini kemudian dibawa oleh Satria ke Jawa Timur. Ia kontak teman-temannya, dan ternyata mendapat sambutan antusias. Malah salah satu temannya, Muhammad Ihsan yangkini menjabat sebagai Sekretaris Pengurus Pusat, rela meninggalkan pekerjaan utamanya untuk benar-benar mengurusi KGI.

Setelah resmi dilaunching di Surabaya inilah, lanjut Satria, KGI mulai berlari pesat. “Dalam waktu relatif singkat kita membuka KGI di beberapa kota seperti Bojonegoro, Nganjuk, Kediri, dan makin berkembang setelah kita meluncurkan website dan milis makin ramai menyebar. Jawa Barat minta dibuka, Jawa Tengah juga menyusul dan Di NTT pun tak mau ketinggalan. Sampai saat ini sudah ada 5 propinsi yang sudah buka ditambah kota-kota lain dengan member sekitar 5.000-an.”

Menjawab dengan makin berkembanganya KGI yang pesat, apa tidak bertabrakan dengan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), baik Satria maupun Nanang menegaskan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. “Yang penting kami sama-sama ingin memajukan dunia pendidikan. Secara organisasi KGI jelas berbeda karena visi dan misinya lebih spesifik ke arah kompetensi dan profesionalisme. Kalau PGRI khan hampir semua mencakup wilayah advokasi, sertifikasi, nah KGI hanya fokus di dua hal tadi,” terang Satria.

Satria juga menambahkan, KGI dan PGRI malah seringkali berjalan seiring. “Di mana-mana kami bekerjasama dengan PGRI. Di Malang itu Ketua KGI-nya adalah Ketua PGRI di sana. Jadi menurut kami nggak masalah. Bagi kami semua orang yang mau memajukan dunia pendidikan bisa dijadikan mitra,” imbuh Satria. Hal lain yang menjadi concern KGI, Satria berujar, bahwa pihaknya ingin secara mandiri di dalam meningkatkan kualitas para anggotanya.

Tanpa embel-embel kepentingan macam-macam inilah, lanjut Satria untuk menjadi anggota KGI ini tidak melalui syarat-syarat yang berbelit. “Cukup mengisi formulir, membayar iuran Rp 50.000 sekali saja dan untuk keanggotaan tidak harus selalu dari profesi guru, kami terbuka bagi siapa saja asal dia mempunyai komitmen untuk memajukan pendidikan nasional.”

Saat ini ada tiga program unggulan di KGI. Pertama Sagusala (satu guru satu laptop), Sepeda untuk Sekolah (SuS) dan Gerakan Membaca Nasional. Sagusala, terang Satria yakni program yang digagas agar guru sekarang mau menggunakan teknologi karena kalau tidak begitu dia akan ketinggalan. “Untuk itulah kami berharap guru harus punya laptop karena kalau guru punya laptop dia bisa belajar terus, dan program ini tidak melulu soal laptop tapi juga kontennya,” kata Satria.

Khusus konten ini, Satria ingin menunjukkan KGI dan mitra yang digandeng, Intel sangat serius membantu. “Kami bekerja sama untuk mendevelop software yang awalnya berbahasa Ingris tapi karena ada persoalan di guru-gurunya, akhirnya mitra kami mau bersusah mengeluarkan investasi Rp 90 juta hanya untuk menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Inilah software yang akan kita cangkok ke dalam program Sagusala.”

Software edukatif lainnya yang ditanam untuk memudahkan guru belajar diantaranya PesonaEdu, Bamboomedia, dan Superpedia, semacam wikipedia tapi hasil pengembangan sendiri. “Dengan program-program seperti ini diharapkan guru benar-benar termotivasi belajar karena sudah tinggal pakai saja.”

Sedangkan untuk SuS, Satria menjelaskan KGI merangkul pihak-pihak sponsor dalam pengadaan sepeda yang akan disumbangkan kepada anak didik yang kurang mampu. Program SuS saat ini sudah berjalan dengan menyalurkan sekitar 1.000 sepeda hasil sumbangan dari Pertamina. “Selain kedua program unggulan tadi, saat ini kami tengah menggalakkan Indonesia Giat Membaca karena kita tahu budaya membaca di negeri ini sangat rendah, jadi nanti akan kita kampanyekan budaya membaca setiap hari,” imbuh Satria.

Menanggapi penggunaan teknologi bagi guru-guru, Indra Djati Sidi, memberi masukan bahwa di luar negeri hal di atas sudah sangat familiar. “Di sana sudah biasa guru memberi tugas lewat website, tugas kepada murid diberikan secara online dan nilainya pun nanti bisa dilihat di internet. Kalau masih belum mengerti, barulah murid bisa minta ketemu dengan gurunya. Intinya adalah bahwa kita harus memulai dengan resources yang ada,” tukas Indra.

Indra yang juga sebagai Dewan Pembina KGI menggambarkan ujung dari guru-guru ke depan adalah mereka kompeten dengan apa yang diajarkan dan bisa mewariskan karakter-karakter positif tentang nasionalisme dan integritas yang kuat. “Jadi yang ditularkan kepada murid-muridnya bukan saja karena dia ngomong, tapi karena gurunya doing, gurunya juga belajar. Ini yang harus diperkuat dalam diri guru-guru kita dan kita peduli tidak hanya kompetensi dari sisi keilmuan tapi juga kompetensi dari soft skillnya, justru itu yang harus diperkuat di Indonesia.”

Sementara itu Rama Royani atau yang biasa dipanggil Abah Rama yang didapuk sebagai Ketua KGI Wilayah DKI Jaya, mengaku siap mengemban amanah yang diberikan. “Kalau harus menunggu tindakan dan kebijakan pemerintah rasanya salah, karena banyak keterbatasan khususnya karena jumlah guru yang sedemikian banyak hampir sekitar 3 juta. Jadi siapa saja yang punya passion dan network sebaiknya berkumpul dan bergerak dari daerahnya masing masing untuk meningkatkan kompetensi para guru,” ajak Abah Rama.

Abah Rama menambahkan, ia ingin memberikan kontribusi selain menggalang kekuatan dan menjalin kerjasama tentunya juga menyiapkan generasi yang lebih muda untuk kepengurusan berikutnya. “Selain itu juga Abah ingin agar semua guru mendapat kesempatan ikut Talents Mapping dengan biaya terjangkau agar dapat menemukan Bakat dan Potensi Kekuatannya masing masing, karena penemuan diri merupakan langkah awal dalam meniti karir ke depan.” #

Read more...

Undangan Bergabung di Milis Deuter Indonesia

7.02.2009

Berikut ini posting saya yang pertama di milis Deuter Indonesia yang sudah saya buat beberapa waktu lalu, tapi baru sekarang ini kepegang. Alasan kenapasaya membuat milis ini ternyata banyak dari teman-teman yang tertarik menjadi agen Deuter dan dari email2 yang masuk kalau dikumpulin kurang lebih seragam.


Nah, biar saya nggak ngulang2 menjawab pertanyaan yang sejenis, maka milis mungkin menjadi jawaban yang pas. Kurang lebihnya begitu. Silahkan disimak.


Dan jangan lupa kalau tertarik gabung ya..



Dear All,



Senang rasanya bisa menyapa teman-teman di Group Deuter Indonesia.



Ijinkan saya memperkenalkan diri, Rudi Kuswanto, yang ke depan akan mendampingi Grup ini untuk bersama-sama sharing sesuatu yang bermanfaat, menginspirasi dan mudah-mudahan kita bisa berbagi rejeki. Amin.



Nama Deuter, tentu sudah menjadi mafhum bersama adalah merk jaminan mutu dari produsen tas dan alat-alat outdoor terkemuka asal Jerman. Tentang bagaimana merek ini dibangun hingga saat ini sudah melewati 11o tahun bisa dikungjungi di situsnya www.deuter.com.



Akan halnya Deuter Indonesia, sebenarnya adalah nama yang saya gagas sendiri mengacu ke rekan kerja yang merupakan principal resmi Deuter di Indonesia. Beliau ini sudah puluhan tahun merintis dan membangun bisnis outdoor hingga bisa berkembang seperti sekarang. Dan Deuter sendiri adalah salah satu merek dari sekian merek yang sudah dipercayakan kepada partners saya ini untuk didistribusikan di pasar Indonesia, dan beberapa malah re-ekspor ke negara-negara Asean.



Kisah saya dan partnert ini bisa diikuti jejak rekamnya di weblog www.deuterindonesia.blogspot.com.



Kepada teman-teman sekalian yang sudah bergabung dan akan bergabung, saya berharap forum ini benar-benar dimanfaatkan untuk saling berbagi energi positif dengan sharing-sharing yang membangun.



Saya terus terang belum tahu model aturan apa yang pas untuk forum ini, sehingga untuk tahap awal, kita akan jajaki kebersamaan ini hingga memang diperlukan suatu aturan khusus. Kalau pun tidak diperlukan dan teman-teman enjoy dengan kondisi sekarang, ya monggo saja, silahkan berkontribusi dengan saran atau masukan yang membangun.



Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman yang mau join dan berbagi nantinya. Demikian perkenalan dan pengantar dari saya.



Salam,



Rudi Kuswanto


NB: Aktivitas lain saya yang bisa diikuti:


http://rudikuswanto.co.nr


http://facebook.com/rudikuswanto


http://twitter.com/erkoes


Y!M: erkoes


Read more...

Sport update

Otomotif update

Berita Lantai Bursa

  © Free Blogger Templates Columnus by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP