Pelajaran dari Sapi Betina (Al-Baqoroh)
9.10.2009
Pada suatu hari terjadi kegemparan di kalangan kaum Nabi Musa. Selidik punya selidik terjadi perang mulut di antara dua klan besar yang berawal dari peristiwa terbunuhnya salah satu anggota klan yang sedang bertikai tersebut. Klan yang anggotanya terbunuh menuntut kepada klan yang satunya. Dan klan yang merasa dituduh telah melakukan pembunuhan, menampik tuduhan tersebut karena tidak ada bukti2 yang kuat. Perang saudara pun hampir-hampir pecah karena tidak menemukan titik temu.
Hingga salah satu mengusulkan untuk membawa masalah berat ini kepada Musa dan meminta rekomendasi bagaimana jalan keluar. Mereka pun bersepakat dan mendatangi Musa.
“Hai Musa, coba tanya deh ke Tuhan ente, siapa yang membunuh Fulan bin Fulan ini?” begitu kira-kira percakapan dari wakil klan tersebut.
Nabi Musa pun berdoa dan memohon kepada Allah supaya diberikan petunjuk. Akhirnya turun perintah agar disembelih seekor sapi betina dan dengan kuasa Allah si mayit akan dibangkitkan dan disuruh menceritakan siapa pembunuh sebenarnya. Bukannya menjalankan perintah yang sudah turun, kaum Nabi Musa ini masih kurang puas.
“Hai Musa, perintahnya nggak jelas tuh, sapi betina khan banyak, coba tanya lagi deh yang lebih spesifik.”
Nabi Musa pun kembali berdoa dan memohon kepada Allah. Turunlah perintah, sapi betina yang badannya bagus dan tidak cacat.
“Hai Musa, masih kurang spesifik.”
Perintah berikutnya, sapi betina, badannya tidak cacat dan berwarna kuning keemasan, kalo dilihat timbul rasa suka.
Dasar kaum Nabi Musa ini tambeng. “Hai Musa, masih kurang spesifik. Coba minta lagi kriteria yang jelas.”
Hingga akhirnya ditemukan kriteria tentang sapi betina tadi. Sapi betina dengan ciri-ciri badannya tidak cacat dan berwarna kuning keemasan, kalo dilihat timbul rasa suka. Sapi ini tidak pernah digunakan untuk membajak atau mengairi sawah.
“Nah ini ini dia baru jelas. Kalo gitu kita cari dah!”
Kejadian ini merupakan peristiwa paralel dengan salah satu adegan di sebuah desa di mana ada salah satu keluarga yang baru ditimpa musibah. Sang suami baru saja meninggal dunia meninggalkan istri dan seorang anak laki-laki yang baru berumur 10 tahun. Dari almarhum, meninggalkan warisan berupa seekor sapi.
Guna menyambung hidup keluarga tersebut, sang ibu tadi menyuruh anak lelakinya untuk pergi ke pasar dan menjual sapinya. “Son, kamu jual ini sapi ke pasar dengan harga 1.000 dinar ya.”
Sami’na wa ato’na.
Bocak kecil tadi pun berangkat ke pasar. Di tengah perjalanan dia dicegat oleh salah satu pedagang sapi. Melihat bentuk badannya sapi yang baik, si pedagang tadi menawar kepada anak kecil tadi dengan harga 2.000 dinar.
“Saya tidak akan menjual sapi ini kecuali dengan harga 1.000 dinar,” kata si anak tadi dengan tegas.
Sami’na wa ato’na.
Rupanya kabar penolakan anak ini pun menyebar dan karena yang nawar tadi termasuk pedagang kakap, maka para pelaku di pasar tidak ada yang berani memberikan penawaran. Rupanya mereka berpikir, wah si bos aja nawar 2.000 gak dikasih, apalagi kita.
Begitulah si anak pulang dengan tangan hampa alias tanpa hasil. Ibunya hanya tersenyum mendengar cerita si anak tentang kejadian di pasar. “Ok son, tomorrow you will try. Coba lagi, kamu kasih tahu ke bapak yang nawar tadi dan kasih deh dengan harga 2.000,” pesan ibunya.
Sami’na wa ato’na.
Esok harinya, anak kecil tadi mencari makelar yang kemarin nawar 2.000 dinar. Rupanya si anak tidak beruntung karena makelar ini ngaku duitnya sudah habis untuk beli sapi yang lain. Anak ini disarankan ke pasar saja, barangkali ada yang berani nawar. Benar. Di pasar sapi ini ditawar oleh salah satu pedagang dengan harga 1.000 dinar.
“Saya tidak akan menjual sapi ini kecuali dengan harga 2.000 dinar,” kata si anak tadi dengan tegas.
Rupanya si anak ini memegang teguh prinsip. Sami’na wa ato’na.
Untuk kedua kalinya, si anak ini pulang dengan tangan hampa alias tanpa hasil. Ibunya pun kembali tersenyum mendengar cerita si anak tentang kejadian di pasar. “Ok son, tomorrow you will try. Sekarang terserah kamu dah, berapapun kasih dah sapi ini biar kamu membawa hasil.”
Sami’na wa ato’na.
Esok harinya, anak kecil mencoba lagi membawa sapinya ke pasar. Tidak menunggu lama, ada pedagang yang nawar sapinya 2.000 dinar. Deal khan harusnya. Ternyata tidak.
Bersambung ye...dah deket ama trawehan.
0 komentar:
Post a Comment