Berbagi dan Bertumbuh di Klub Guru Indonesia
7.10.2009
Hari ini saya join dengan milis Klub Guru Indonesia. Mudah-mudahan saya bisa memberikan kontribusi kepada organisasi profesi yang mayoritas anggotanya tentu saja para guru-guru kita tercinta. Saya sendiri memang tidak berprofesi sebagai guru, namun semangat dari para pendiri KGI (Satria Darma dan Ahmad Rizali) yang ingin mengajak kepada semua lapisan untuk membantu para guru meningkatkan profesionalismenya, mendorong saya untuk ikutan memberikan sumbangsih.
Berikut ini tulisan saya tentang Klub Guru Indonesia yang dimuat di Majalah Human Capital Edisi Juli 2009. Silahkan disimak.
Berbagi dan Bertumbuh di Klub Guru Indonesia
Gaung Klub Guru Indonesia mulai terdengar ke mana-mana. Kabar gembiranya, gur-guru sekarang mulai bergerak membawa angin segar bagi dunia pendidikan nasional. Dengan kesadaran sendiri mereka mulai menghargai diri sendiri dan bersama-sama untuk saling berbagi dan bertumbuh meningkatkan kualitas serta profesionalisme.
Lagu Kebangsaan Indonesia Raya terdengar syahdu di Auditorium Pangeran Kuningan, Gedung Grha Citra Caraka Telkom, Jakarta, akhir bulan lalu. Lebih dari 300-an guru berdiri dan menyanyikan dengan sepenuh jiwa. Mereka menjadi saksi dari perjalanan Klub Guru Indonesia (KGI) yang pada hari itu mengukuhkan kepengurusan untuk wilayah DKI Jaya periode 2009-2012.
KGI sendiri awalnya adalah buah pikiran dari dua orang pemerhati pendidikan yang gelisah ingin melihat perubahan dan berniat memberikan kontribusi bagi bangsa ini. Adalah Satria Dharma dan Ahmad Rizali yang berkenalan lewat milis Center for Betterment of Education (CFBE), sekitar sembilan tahun silam dan mulai menjalin persahabatan. Mereka saling bertukar pendapat tentang dunia pendidikan berikut persoalan-persoalan yang dihadapi.
“Dari sering berinteraksi di milis kami akhirnya sering bertemu langsung dan membahas banyak hal. Ternyata pendidikan itu sangat luas dan permasalahannya juga sangat kompleks. Untuk itulah kami membutuhkan orang-orang yang punya komitmen,” tutur Satria Darma, Ketua Umum KGI saat ditemui Majalah Human Capital. “Sayangnya kita melihat banyak lembaga-lembaga atau sumber daya di masyarakat justru menjadi oposisi, mereka mengkritik dan lain sebagainya. Nah, kami tidak ingin menjadi seperti itu, tapi kami ingin menjadi bagian yang bisa menyelesaikan masalah.”
Dari hasil obrolan pertemuan-pertemuan offline, Satria dan Nanang, panggilan Ahmad Rizali bersepakat untuk membantu para guru. “Karena apapun masalah yang ada di pendidikan, intinya tetap ada di guru, dan kita melihat harus mulai dari diri sendiri karena organisasi semacam yang ada terlalu besar untuk mengurusi hal-hal yang spesifik,” imbuh Satria. Sementara Nanang menambahkan, ide awal pembentukan KGI benar-benar atas dasar kebutuhan para guru meningkatkan kompetensi dan profesionalisme.
Langkah awal mereka mulai membuat seminar pertama di Jakarta pada 2007 di Sampoerna Fondation. Sayang action awal di Jakarta kurang direspon dan ditindaklanjuti. Ide dasar ini kemudian dibawa oleh Satria ke Jawa Timur. Ia kontak teman-temannya, dan ternyata mendapat sambutan antusias. Malah salah satu temannya, Muhammad Ihsan yangkini menjabat sebagai Sekretaris Pengurus Pusat, rela meninggalkan pekerjaan utamanya untuk benar-benar mengurusi KGI.
Setelah resmi dilaunching di Surabaya inilah, lanjut Satria, KGI mulai berlari pesat. “Dalam waktu relatif singkat kita membuka KGI di beberapa kota seperti Bojonegoro, Nganjuk, Kediri, dan makin berkembang setelah kita meluncurkan website dan milis makin ramai menyebar. Jawa Barat minta dibuka, Jawa Tengah juga menyusul dan Di NTT pun tak mau ketinggalan. Sampai saat ini sudah ada 5 propinsi yang sudah buka ditambah kota-kota lain dengan member sekitar 5.000-an.”
Menjawab dengan makin berkembanganya KGI yang pesat, apa tidak bertabrakan dengan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), baik Satria maupun Nanang menegaskan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. “Yang penting kami sama-sama ingin memajukan dunia pendidikan. Secara organisasi KGI jelas berbeda karena visi dan misinya lebih spesifik ke arah kompetensi dan profesionalisme. Kalau PGRI khan hampir semua mencakup wilayah advokasi, sertifikasi, nah KGI hanya fokus di dua hal tadi,” terang Satria.
Satria juga menambahkan, KGI dan PGRI malah seringkali berjalan seiring. “Di mana-mana kami bekerjasama dengan PGRI. Di Malang itu Ketua KGI-nya adalah Ketua PGRI di sana. Jadi menurut kami nggak masalah. Bagi kami semua orang yang mau memajukan dunia pendidikan bisa dijadikan mitra,” imbuh Satria. Hal lain yang menjadi concern KGI, Satria berujar, bahwa pihaknya ingin secara mandiri di dalam meningkatkan kualitas para anggotanya.
Tanpa embel-embel kepentingan macam-macam inilah, lanjut Satria untuk menjadi anggota KGI ini tidak melalui syarat-syarat yang berbelit. “Cukup mengisi formulir, membayar iuran Rp 50.000 sekali saja dan untuk keanggotaan tidak harus selalu dari profesi guru, kami terbuka bagi siapa saja asal dia mempunyai komitmen untuk memajukan pendidikan nasional.”
Saat ini ada tiga program unggulan di KGI. Pertama Sagusala (satu guru satu laptop), Sepeda untuk Sekolah (SuS) dan Gerakan Membaca Nasional. Sagusala, terang Satria yakni program yang digagas agar guru sekarang mau menggunakan teknologi karena kalau tidak begitu dia akan ketinggalan. “Untuk itulah kami berharap guru harus punya laptop karena kalau guru punya laptop dia bisa belajar terus, dan program ini tidak melulu soal laptop tapi juga kontennya,” kata Satria.
Khusus konten ini, Satria ingin menunjukkan KGI dan mitra yang digandeng, Intel sangat serius membantu. “Kami bekerja sama untuk mendevelop software yang awalnya berbahasa Ingris tapi karena ada persoalan di guru-gurunya, akhirnya mitra kami mau bersusah mengeluarkan investasi Rp 90 juta hanya untuk menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Inilah software yang akan kita cangkok ke dalam program Sagusala.”
Software edukatif lainnya yang ditanam untuk memudahkan guru belajar diantaranya PesonaEdu, Bamboomedia, dan Superpedia, semacam wikipedia tapi hasil pengembangan sendiri. “Dengan program-program seperti ini diharapkan guru benar-benar termotivasi belajar karena sudah tinggal pakai saja.”
Sedangkan untuk SuS, Satria menjelaskan KGI merangkul pihak-pihak sponsor dalam pengadaan sepeda yang akan disumbangkan kepada anak didik yang kurang mampu. Program SuS saat ini sudah berjalan dengan menyalurkan sekitar 1.000 sepeda hasil sumbangan dari Pertamina. “Selain kedua program unggulan tadi, saat ini kami tengah menggalakkan Indonesia Giat Membaca karena kita tahu budaya membaca di negeri ini sangat rendah, jadi nanti akan kita kampanyekan budaya membaca setiap hari,” imbuh Satria.
Menanggapi penggunaan teknologi bagi guru-guru, Indra Djati Sidi, memberi masukan bahwa di luar negeri hal di atas sudah sangat familiar. “Di sana sudah biasa guru memberi tugas lewat website, tugas kepada murid diberikan secara online dan nilainya pun nanti bisa dilihat di internet. Kalau masih belum mengerti, barulah murid bisa minta ketemu dengan gurunya. Intinya adalah bahwa kita harus memulai dengan resources yang ada,” tukas Indra.
Indra yang juga sebagai Dewan Pembina KGI menggambarkan ujung dari guru-guru ke depan adalah mereka kompeten dengan apa yang diajarkan dan bisa mewariskan karakter-karakter positif tentang nasionalisme dan integritas yang kuat. “Jadi yang ditularkan kepada murid-muridnya bukan saja karena dia ngomong, tapi karena gurunya doing, gurunya juga belajar. Ini yang harus diperkuat dalam diri guru-guru kita dan kita peduli tidak hanya kompetensi dari sisi keilmuan tapi juga kompetensi dari soft skillnya, justru itu yang harus diperkuat di Indonesia.”
Sementara itu Rama Royani atau yang biasa dipanggil Abah Rama yang didapuk sebagai Ketua KGI Wilayah DKI Jaya, mengaku siap mengemban amanah yang diberikan. “Kalau harus menunggu tindakan dan kebijakan pemerintah rasanya salah, karena banyak keterbatasan khususnya karena jumlah guru yang sedemikian banyak hampir sekitar 3 juta. Jadi siapa saja yang punya passion dan network sebaiknya berkumpul dan bergerak dari daerahnya masing masing untuk meningkatkan kompetensi para guru,” ajak Abah Rama.
Abah Rama menambahkan, ia ingin memberikan kontribusi selain menggalang kekuatan dan menjalin kerjasama tentunya juga menyiapkan generasi yang lebih muda untuk kepengurusan berikutnya. “Selain itu juga Abah ingin agar semua guru mendapat kesempatan ikut Talents Mapping dengan biaya terjangkau agar dapat menemukan Bakat dan Potensi Kekuatannya masing masing, karena penemuan diri merupakan langkah awal dalam meniti karir ke depan.” #
0 komentar:
Post a Comment